BACK
|Behind The Bible

Ujung Penantian

Anakku yang bungsu itu memang nakal sekali. Dia pernah membuat kawanan domba kami lepas dari kandang, berlarian pergi dengan kalang-kabut saat coba ditangkap oleh para penggembalaku. Dia juga pernah pergi selama berhari-hari hanya untuk bermain dengan seorang sahabatnya. Mereka menjelajah pegunungan yang terletak tak jauh di belakang rumah kami. Dia bahkan pernah bertengkar dan membuat kakaknya satu-satunya marah besar. Mereka memang tidak pernah akur dari awal, namun hal-hal yang lebih buruk selalu terjadi saat anak ini yang pertama berulah. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan ulahnya.

Namun, anakku yang bungsu itu begitu berani. Ia pernah pergi sendirian mencari kakaknya yang tersesat di hutan. Tentu saja sikap bodohnya tidak berbuah apapun. Kakaknya dapat ditemukan oleh para penggembalaku sementara dia justru menghilang. Tapi, saat kami menemukannya, tak ada setetes pun air mata yang keluar dari kedua matanya yang coklat itu. Para penggembalaku menemukannya terduduk di bawah pohon sambil menatap kami dengan kesal kemudian memarahi mereka karena tidak segera menemukannya. Karena sifatnya ini, ia tak mudah menangis. Ia bisa berkelahi dengan kawan-kawannya dan pulang dengan babak belur tanpa sedikit pun menangis. Ia kehilangan keledai kesayangannya namun masih juga ia tak menangis. Aku rasa aku tak akan pernah melihatnya menangis seumur hidupnya, mungkin sekalipun aku mati.

Ya, dia tidak terlalu peduli padaku. Dia tak pernah menatapku saat kami berbicara, tak pernah benar-benar mendengarkan nasehatku, bahkan tak pernah sekalipun memberi suatu hadiah padaku. Dia tampak seperti memiliki dunianya sendiri. Dalam hal ini akhirnya aku menyerah untuk mendapatkan perhatiannya. Walaupun aku tak pernah tahu apa kesalahanku padanya, namun tak ada gunanya membahas hal seperti itu dengannya.

Sampai suatu hari ia menatap mataku saat bicara. Aku baru saja akan melonjak gembira saat aku mendengar ucapannya.

“Ayah, aku mau pergi. Berikan hak warisanku kepadaku.“

Aku menanti sebuah kata manis terlontar dari mulutnya selama bertahun-tahun. Namun, justru ini yang kudapat. Dadaku terasa sesak. Aku segera berdiri sambil menatapnya tajam. Beban ini tidak bisa kutanggung lebih lama.

“Kau pikir ayah sudah mati, ha?!“

“Memangnya kenapa? Ayah hidup atau tidak kan tidak penting? Sudahlah, berikan saja hakku sekarang. Setelah ini juga aku pergi.“

“Apa kau sudah gila? Ayah tidak akan memberikan hak warisanmu. Tidak selama ayah masih hidup!”

Nafasku memburu. Aku begitu emosional. Aku masih menatapnya dengan tajam dan segera kusadari satu hal; ia tenang sekali.

Dia menatapku dengan raut wajah acuh tak acuhnya. Dia tampak tak menggubris kata-kataku sama sekali. Sepertinya dia hanya memikirkan soal harta yang dia ingin dapatkan. Ya, ia benar-benar sudah menganggapku mati.

Aku tertunduk. Pelan-pelan, kuangkat tanganku dan menunjuk ke satu-satunya ruang lain di samping dapur. Aku tidak melihatnya pergi namun kurasakan dia melangkah menuju arah yang kutunjukkan. Setelah itu, berlalu.

* * *

Esok harinya aku terbangun dengan enggan. Aku sendirian di kamarku. Sudah bertahun-tahun sejak istriku meninggal namun tetap saja aku tak bisa beralih dari kepergiannya. Kalau istriku masih hidup, ia pasti tahu harus berbuat apa. Dia selalu tahu bagaimana harus menyikapi anak kami yang bungsu itu. Dia selalu tahu, sementara aku tidak.

Aku beranjak keluar dari kamar. Saat aku melihat kondisi rumah yang berantakan, segera aku tahu bahwa anakku sudah mulai berangkat. Cepat-cepat aku berlari ke gerbang, berharap ia masih belum keluar dari sana.

Aku tergopoh-gopoh menyusuri koridor. Saat melihat ia sedang berjalan tak jauh dari gerbang, aku berlari lebih cepat. Dia menghentikan langkahnya tepat saat aku tiba di muka gerbang.

“Nak, kau yakin akan pergi?“

Dia tak langsung menjawab. Pelan-pelan ia membalikkan badan dan menatapku, sebuah sikap yang tak pernah kulihat seumur hidupku. 

“Iya, ayah. Aku pergi.“

“Nak, jika suatu hari kamu dalam kesulitan, pulanglah! Jangan ragu. Pintu rumah ini selalu terbuka bagimu.“

Ia tersenyum. Sebuah senyuman sinis yang diberikan dengan penuh kepercayaan diri. 

“Aku tidak akan kembali, yah. Aku akan hidup dengan sangat bahagia sesuai dengan keinginanku. Tolong jaga diri ayah dengan baik!“

Momen berikutnya adalah saat yang paling getir dalam hidupku. Aku hanya bisa diam melihat dia pergi. Dan, ya, aku menangis. Siapa yang tidak? Aku melihat dia berdiri dan menengok ke belakang, namun jelas ia tak bisa melihat air mataku dari  jarak sejauh itu.

* * *

Hidupku tidak pernah sama lagi sejak kepergiannya. Kerjaanku hanya duduk menunggunya pulang. Aku sangat marah, namun aku juga sangat merindukannya. Aku memang masih punya satu orang anak, namun rasanya aku sudah tidak menjadi seorang ayah lagi. Setiap penantianku di kursi depan pintu ini memang tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah mencapai akhir seperti yang kubayangkan. Namun, tetap saja aku melakukannya. Ini terjadi karena perubahan di hatiku. Awalnya aku marah, sangat marah. Namun, lama-kelamaan aku jadi mengkuatirkannya. Apakah dia bisa bertahan hidup di luar sana? Maksudku, memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan untuk hidup? Tak pernah sekalipun aku melihatnya membersihkan rumah. Mengurus ternak pun dia tak becus. Aku selalu menyerahkan semua pekerjaan pada kakaknya karena dia tak pernah benar dalam berbuat sesuatu selain berkelahi. Itulah kenapa aku memutuskan untuk menunggunya pulang. Aku tahu ia tak akan bisa bertahan lama di luar sana, jadi aku hendak menerimanya pulang. Dia akan aman di sini. Namun, jika ia tak mau pulang, setidaknya aku ingin memberikan cincinku padanya. Aku ingin dia tetap mengingatku sebagai ayahnya. Lagipula, cincin emas ini cukup mahal. Barangkali, lewat cincin ini ia dapat membeli makan dan tempat bernaung. Kuputuskan untuk menghabiskan masa tuaku di kursi ini untuk menunggu dia pulang.

* * *

Aku tidak ingat sudah berapa lama aku menunggu. Tapi, yang pasti itu sudah bertahun-tahun lamanya. Mudah saja, anakku yang sulung itu masih seorang pemuda yang baru saja mulai beranjak dewasa saat adiknya pergi dari rumah. Kini, anakku yang sulung itu sudah memiliki seorang bayi yang lucu. Aku sangat suka menggendongnya. Sempat kuusulkan nama yang serupa dengan nama anakku yang bungsu, namun ditolak dengan keras. Aku masih ingat betul perkataannya saat itu.

“Jangan samakan nama anakku dengan nama seorang pengkhianat, ayah.“

Andai adiknya tahu kalau kakaknya mengatainya demikian, pertengkaran hebat pasti terjadi. Aku tersenyum kalau mengingatnya. Mereka berdua ini sangat menjengkelkan saat berkelahi, namun mereka saling menyayangi. Walau usulanku ditolak hari itu, namun dia memberikan mainan adiknya semasa kecil pada anaknya. Kami tak pernah membahas hal itu hingga kini. Tapi, setidaknya aku tahu perasaannya pada adiknya sekarang. Diam-diam, di balik semua amarahnya, ia merindukannya sama sepertiku.

Suatu hari, di pagi yang cerah dan hangat, aku duduk di kursiku seperti biasa. Aku menerawang jauh, melihat ke arah cakrawala pagi yang indah dan cerah dengan mentarinya yang mengarahkan sinarnya ke wajahku. Tak ada apapun di sana selain padang rumputku yang luas, sama seperti biasa. Tampaknya hari itu akan berlalu seperti ratusan hari sebelumnya. Namun, aku salah.

Mataku yang tua dan mulai rabun ini memang sudah sulit melihat benda-benda di kejauhan dengan jelas. Namun, kali ini aku yakin dengan apa yang kulihat. Tampak seorang pria berjalan dengan pincang ke arah rumahku. Ia melangkah seperti sudah beratus-ratus mil berjalan. Aku berdiri perlahan dan berjalan ke arah pintu gerbang, melihat lebih dekat siapa yang datang. Ya, mataku sudah tua dan mulai rabun, namun aku yakin dengan apa yang kulihat. Wajah itu tk berubah meski sudah sulit dikenali.

Aku berlari ke arahnya. Tubuh rentaku memang sulit digerakkan dengan gesit seperti dulu, namun aku memaksakan kakiku sekuat tenaga. Nafasku berat, dadaku sesak. Tapi aku tetap berlari. Aku tidak akan melewatkan sedetik pun momen ini dengan berjalan. Tidak, aku tak mau membuatnya lebih lama lagi. 

Semakin dekat aku semakin bisa melihat wajahnya. Kini, terlihat jelas. Di balik rambut berantakan itu, aku melihat wajah anak bungsuku. Wajah itu kusam dan sedih. Aku tak bisa melihat mata coklatnya yang indah namun aku bisa melihat mulutnya bergerak-gerak, menggumamkan sesuatu. 

Saat kami sudah sangat dekat, tanpa keraguan sedikitpun aku memeluknya erat. Aku tak dapat memikirkan apapun lagi. Air mataku mengalir deras dan tanganku bergetar. Telingaku mendengar bisikkan mulutnya yang berkali-kali mengulang kalimat yang sama. Namun, aku tak peduli. Aku tak peduli lagi apa yang ia katakan, entah itu hujatan atau makian padaku, atau pada apapun. Yang kupedulikan adalah dia, di sini bersamaku. Dia juga tak membalas pelukanku, namun itu juga aku tak peduli. Aku hanya membalasnya dengan ucapan selamat datang di rumah. Entah itu jawaban yang ia butuhkan atau bukan, aku tak peduli. Hanya itu yang terlintas di pikiranku, mungkin sudah sejak pertama kali dia pergi.

Anakku yang bungsu itu memang nakal sekali. Dia pergi dari rumah dan menganggapku telah mati. Dia hanya peduli dengan dirinya sendiri. Namun, anakku yang bungsu itu kembali. Ia memang hilang namun kini telah kutemukan kembali. Ia memang telah menyakiti hatiku dan menghamburkan warisan yang kuberi. Tapi, aku tak peduli. Aku tak peduli pada apa yang sudah terjadi. Mungkin ini disebut mengampuni, mungkin juga tidak, tetapi ada satu hal yang pasti: sejak hari itu, aku tak pernah duduk di muka pintu rumah seorang diri lagi.

© Copyright 2021 All rights reserved. Crafted by Thrive.