BACK
|Open Letters

Turning Point

Titik gelap dalam hidupku dimulai sejak aku berusia kurang lebih sekitar umur 4 tahun. Aku hidup di lingkungan yang keras, di tengah orang tua yang sangat otoriter dan suka main tangan. Sekecil apapun kesalahan yang kulakukan, hukumannya nggak main-main. Pernah suatu ketika aku menumpahkan air minum dan hasilnya aku mendapat hadiah “sapu” dari kedua orang tuaku. Hal itu membuat aku bertumbuh sebagai seorang pemberontak.

Sejak kecil, aku memiliki dendam pada ayahku. Itu karena perlakuannya yang kasar terhadap ibuku. Pendendam dan pemberontak. Ya, itulah sifat yang aku bawa sampai awal SMA. Aku menjadi seorang yang sombong dan keras kepala. Aku pun menjadi seorang yang “ringan tangan” karena pengalaman buruk yang kualami semenjak kecil. Aku juga menjadi orang yang butuh penghargaan dari orang lain, bagaimanapun caranya. Aku belajar keras, aktif di sekolah, berteman dengan banyak orang, hanya agar aku merasa dihargai dan dilihat banyak orang.

Semua berubah ketika aku diterima di SMA Negeri 1 Salatiga. Aku diperkenalkan dengan komunitas Kristen yang ada di sana. Awalnya, aku hanya datang ke persekutuan itu karena diwajibkan. Hingga suatu hari, seorang teman mengajakku untuk ikut dalam doa yang diadakan setiap hari rabu setelah jam sekolah selesai. Kebetulan temanku ini menjabat sebagai pengurus di persekutuan doa tersebut. Entah mengapa aku mengiyakan saja ajakannya. Awalnya kami bernyanyi bersama dan berdoa. Sampai pada suatu titik seorang kakak pengurus datang menghampiriku dan mendoakanku. Seketika itu juga aku teringat dengan segala kepahitan yang sudah aku pendam sejak kecil. Saat itu juga aku mengakui segala dosaku pada Tuhan. Aku mengakui segala sifat burukku di masa lalu dan berkomitmen untuk mengampuni segala kesalahan kedua orang tuaku.

Memang setelah itu orang tuaku tidak mengalami perubahan. Mereka seringkali bertindak seenaknya. Tapi yang aku percaya, Tuhan yang kupercaya tidak akan pernah meninggalkanku. Kurang lebih satu tahun setelah aku mengampuni kedua orang tuaku, aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk ikut di salah satu retreat di Ungaran. Dan lewat retreat itu ibuku mulai diubahkan, bahkan ayahku. Sejak saat itu, kami bisa menangis bersama saling mengampuni satu dengan yang lain. 

Tidak mudah memang untuk mengampuni orang yang jelas-jelas menyakiti kita. Awalnya kita berpikir, untuk apa mengampuni? Segampang itukah memaafkan orang lain? Tapi kalau kita sungguh mengenal Tuhan yang kita sembah, betapa baiknya Dia, bahkan sampai rela mati untuk menebus segala dosa kita, maka kita tidak akan berpikir bahwa mengampuni adalah suatu hal yang merugikan. Justru dengan mengampuni, kita belajar untuk rendah hati. Dan disaat kita telah mengampuni, berkat-berkat yang baru akan senantiasa bersama dengan kita. 

~ Ekaturida Kismakirana S  

© Copyright 2021 All rights reserved. Crafted by Thrive.