BACK
|Behind The Bible

Tujuh Roti Ajaib

“Simon, apa kau punya roti lagi? Aku mulai lapar,“ tanya Yakobus pada Simon Petrus. Yakobus beralih menatap Andreas.

“Ah, tentu saja tidak. Roti terakhirku sudah kumakan di makan malam kita. Bahkan sejak pagi ini aku belum makan,” jawab Simon.

“Bagaimana denganmu Andreas, apa kau punya?” kini Yakobus menatap Andreas. Segera Andreas mengalihkan pandangannya dan menjawa sambil lalu.

“Tidak, uhmm, aku tidak punya roti.”

“Benarkah itu? Kau tampak menyembunyikan sesuatu,“ kata Simon menanggapi.

“Aku tahu tabiatmu, wahai saudaraku yang tak pandai menipu.“

“Sungguh. Aku tidak punya roti. Serius.”

Yakobus dan Simon menatap Andreas lekat-lekat, yang kini mulai terlihat berkeringat. Akhirnya, mereka berdua berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Setelah itu, mereka memegang kedua lengan Andreas dan mulai menggeledah barang bawaannya.

“Hey, apa-apaan ini? Aku berkata jujur!”

“Mari kita buktikan apakah ucapanmu benar atau tidak,” kata Simon sambil merogoh kantong tas kecil milik Andreas. Raut wajahnya mendadak berubah saat mendapati sesuatu di dalam sana.

“Aha! Sepotong ikan! Memang kau tidak membawa roti; dalam hal ini kau berkata jujur. Namun, kau membawa makanan! Mengapa kau sembunyikan dari kami ha?!“ kata Simon dengan keras. Yakobus ikut menatapnya dengan tatapa serius.

“Ahh, uhmm, aku menyimpannya karena,,“ 

“Cepat katakan! Kau baru saja mengelabui saudaramu sendiri, Andreas!“ Simon menekan Andreas lebih keras. 

“Oke, oke, aku menyerah. Baiklah, sebentar, bisa kau kendorkan cengkeraman tanganmu yang besar ini?“ kata Andreas akhirnya. Simon menurutinya. Ia dan Yakobus melepaskan cengkeraman tangan mereka.

“Baik, dengar. Aku hanya berusaha menyimpan makanan. Hanya itu, tak ada niat egois atau buruk. Aku menyimpannya untuk berjaga-jaga, karena sudah 3 hari kita di sini! Kau lihat sendiri, Guru sedang mengajar dan bermujizat dengan begitu luar biasa. Kita tak bisa menyelanya untuk berbelanja makanan atau mengambil perbekalan, kan? Tidak, tentu tidak, kita harus menyimpan beberapa potong untuk kita dan Guru!“ jelas Andreas.

“Tapi kau hanya menyimpan sepotong ikan! Jelas ini tidak cukup untuk kita,” protes Yakobus.

“Iya, memang, tapi apa yang kau simpan? Masih lebih baik aku yang menyimpan sepotong ikan. Lihat diri kalian, kalian bahkan tidak menyimpan makanan sama sekali di saku kalian!“ seru Andreas.

“Apa kau bilang? Kau menuduh kami dengan sembarangan! Kemari kau dasar penyelundup!“ Simon segera menubruk saudaranya tersebut, didukung Yakobus yang juga bergerak menyerangnya. Andreas memberontak dan terjadilah perkelahian di sana.

Murid-murid yang lain segera melihat hal itu dan menyadari bahwa perkelahian itu tak bisa dibiarkan, apalagi tidak jauh dari mereka ada Yesus yang masih mengajar dan melayani banyak orang. Segera para murid yang lain melerai mereka.

“Hei, sudah, sudah! Menyingkir darinya, Simon!“ perintah Bartolomeus.

Ia menarik Simon ke belakang dengan segenap kekuatannya. Didukung oleh badannya yang lebih besar dari Simon, ia berhasil mengamankan temannya itu. Filipus dan Matius datang membantunya.

“Yakobus, hentikan! Kemari kau!“ teriak Thomas.

Ia dan beberapa murid lain juga segera membantunya. Yakobus memiliki badan yang juga cukup besar sehingga lebih sulit untuk mengamankannya. Tangannya sempat menyentak Yohanes, yang segera terjatuh karena kerasnya sentakan itu. 

Perkelahian itu segera selesai. Beberapa orang dari 4000 orang yang ada di sana sempat memperhatikan hal tersebut, namun tidak begitu menggubrisnya ketika melihat bahwa perkelahian itu telah selesai. Para murid tersebut kini sudah lebih tenang dan mulai berdiskusi.

“Hei, apa yang kalian perebutkan? Hanya sepotong ikan?“ tanya Thomas.

“Ini lebih dari sekedar sepotong ikan! Andreas tidak mau membaginya dan bahkan menyembunyikannya dari kami berdua saat kami bertanya padanya!“ kata Simon menjelaskan. Nafasnya masih tersengal-sengal.

“Benar, ini soal makanan dan soal persaudaraan!” tambah Yakobus.

Andreas baru akan membalas kata-kata mereka saat Thomas segera menengahi.

“Sudahlah, sudah! Dengar, kita semua lapar di sini. Kita sudah menjalankan pelayanan ini selama 3 hari untuk 4000 orang lebih di sini! Semua lelah, semua lapar. Tapi, daripada berkelahi karena makanan, sebaiknya kita mulai mengatur strategi dan mengumpulkan setiap potongan ikan dan roti yang kita punya! Setelah itu, kita akan dapat mengaturnya dengan lebih baik,“ jelas Thomas. Segera ia mengeluarkan dua potong roti dari balik jubahnya.

“Ini, aku punya dua potong roti. Keluarkan setiap makanan di saku kalian semua dan mari kita jatah bersama-sama untuk kita dan Guru,” tambahnya.

“Lalu, bagaimana dengan ribuan orang itu?” tanya Yohanes.

“Hei, nak, dengar. Mereka sudah mendapatkan kesembuhan dari segala penyakit mereka yang mustahil disembuhkan itu. Mereka tidak perlu mendapat makanan lagi. Nanti juga mereka pulang,“ tandas Thomas.

“Benar, lagipula kita tidak punya makanan yang cukup untuk mereka semua di sini,“ Filipus menambahkan. 

Yohanes menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Tunggu, dengarkan aku. Belum ada 40 hari sejak kita mengalami mujizat 5 roti dan 2 ikan itu, bukan? Guru mampu memberi makan 5000 orang laki-laki beserta istri dan anak-anak mereka hanya dengan makanan yang sedikit itu. Tentu saja Dia mampu melakukan hal yang sama sekarang. Jadi, lebih baik kita kumpulkan makanan yang kita miliki lalu memberikannya pada Guru untuk dibagikan.“

“Yohanes, kau ini bicara apa? Kau tidak ingat apa yang terjadi pada mujizat tersebut? Guru mengajarkan mengenai roti hidup pada mereka namun mereka justru pergi meninggalkan-Nya! Saat itu aku sudah sangat senang karena jaringan pergerakan kita akan segera meluas, namun lihat apa yang terjadi setelah itu! Guru bahkan ikut bertanya pada kita apakah kita juga akan meninggalkannya atau tidak. Bayangkan, ironi apa yang lebih buruk dari itu, Yohanes!” sahut Thomas. Kata-katanya diikuti anggukan kepala dari murid-murid yang lain. Simon, Andreas dan Yakobus yang tadi berkelahi kini ikut setuju dengan kata-kata Thomas.

“Thomas benar. Jika kita memberi makan pada mereka, maka hal itu tidak akan serta-merta membuat mereka mau mengikut Guru. Itu percuma, seperti memberi roti pada anjing,“ kata Filipus.

“Ya, tapi ingat apa yang perempuan Kanaan itu katakan pada Guru, anjing itu memakan remah-remah yang jatuh pada...“

“Anjing itu hanya akan pergi dan membuang kotoran di depan rumah, Yohanes!“ sela Thomas. Kata-kata itu membuat Yohanes terdiam. 

“Ya, Guru mengajarkan kita tentang kasih karunia. Tapi ingat juga bagaimana ia merespon kota-kota yang menolak Dia. Dikutuk, bro, dikutuk! Korazim dan Kapernaum serta kota-kota lainnya berakhir terkutuk oleh guru karena respon mereka yang begitu menyebalkan! Kini kau mau berpihak pada sisi itu?“ kata Thomas kemudian. 

Semua murid kini diam. Mereka tidak hanya setuju dengan perkataan Thomas, namun lebih dari itu; mereka merenungkannya. Ya, mereka percaya bahwa memberi makan 4000 orang itu adalah perkara mudah bagi Yesus. Namun, mereka merasa akan lebih bijak jika hal itu tidak terjadi.

“Baiklah, terserah kalian. Tapi, aku hanya percaya bahwa Guru memiliki kasih yang besar. Ia adalah kasih itu sendiri. Ia tak akan tahan melihat kerumunan orang itu kelaparan, aku jamin,“ kata Yohanes kemudian. Ia mundur beberapa langkah ke belakang, menyingkir dari kerumunan murid tersebut. 

Para murid lainnya melihat sikap Yohanes sesaat, bingung juga harus merespon apa. Akhirnya, mereka tetap melakukan rencana yang Thomas berikan tadi, mengumpulkan semua makanan yang mereka miliki dan mulai menghitung. Ada tujuh roti dan beberapa potong ikan. Tidak cukup untuk mereka berdua belas dan Yesus, namun setidaknya mereka bisa menjatahnya. Matius memimpin penghitungan dan penjatahan tersebut. Ia tetap memasukkan Yohanes ke dalam hitungan secara diam-diam. Akhirnya, mereka sepakat untuk menyimpan makanan tersebut untuk dua hari ke depan. Matius juga yang paling dipercaya untuk menyimpan makanan tersebut walaupun Simon bersikeras bahwa dia bisa dipercaya. Mereka semua sepakat dan memantapkan hati jika Yesus hendak bertanya pada mereka.

Benar saja, tak berapa lama kemudian, Yesus mendekati mereka. Seluruh murid berjalan menghampiri Yesus, tak terkecuali Yohanes, yang masih kesal dan dongkol.

“Hei, bagaimana kabar kalian?” tanya Yesus.

“Baik Guru,“ jawab mereka bersahutan.

“Dengar. Kita sudah tiga hari di sini dan orang-orang sudah mulai kehabisan persediaan makanan. Aku bahkan melihat beberapa orang benar-benar tidak makan sejak kemarin. Hatiku benar-benar tergerak oleh belas kasihan. Sungguh, aku tidak tahan melihat mereka begini,“ kata Yesus dengan sedih.

“Ya, sih, Guru. Tapi, di tempat yang terpencil begini, bagaimana kita bisa mendapatkan makanan? Kota terdekat saja butuh waktu setengah hari perjalanan, yang kalau bolak-balik berarti satu hari perjalanan, kan?“ sahut Thomas.

“Benar, Guru. Lagipula, bukankah mereka sudah mendapat kesembuhan? Aku rasa itu sudah lebih dari cukup, sih,” Filipus menambahkan.

“Ya, dan uang kas kita sedikit. Benar-benar tidak cukup walau untuk kebutuhan kita sendiri saja,” kata Yudas Iskariot.

Murid-murid yang lain mengiyakan sambil memasang raut wajah bingung. Mereka terlihat kuatir dan tidak tahu harus berbuat apa. Yesus menatap mereka satu per satu dan mengakhirinya di Yohanes. Ia tersenyum melihat pria itu.

“Yohanes, tidakkah kau merasa kasihan pada mereka?“ tanya Yesus.

Yohanes menatap Yesus dengan bingung. Ia segera menundukkan kepala, tidak mau membalas tatapan gurunya itu. Yesus tertawa kecil lalu menepuk pundak Yohanes.

“Tak apa, kalau kasihan ya kasihan saja. Tak ada yang salah dengan mengasihi orang lain,” tambah-Nya.

Yesus mengalihkan pandangannya pada murid-murid yang lain. Dia tersenyum penuh arti pada mereka semua.

“Oke, guys, begini. Sebenarnya jauh lebih baik kalau kalian mengakuinya sejak awal. Namun, karena tidak ada yang mengaku, Aku terpaksa menembak kalian sekarang,“ kata Yesus. Para murid berpandangan satu sama lain. Simon memejamkan matanya dengan pasrah. Dia tahu gurunya pada akhirnya akan menyadarinya juga.

“Jadi, ada berapa roti yang ada pada kalian?“ tanya Yesus kemudian. 

Para murid kini mulai menundukkan kepala. Mereka sadar bahwa Yesus sudah tahu rencana mereka. Thomas membuka mulutnya, hendak merespon perkataan Yesus namun segera ditahan oleh Andreas yang menyikut lengan kanannya dengan keras. Matius tidak mampu menahannya lebih lama lagi. Akhirnya ia menyodorkan kantung makanan mereka.

“Ada tujuh roti, Guru,” kata Matius.

Yesus masih tersenyum. Ia mengangkat alis kirinya lebih tinggi sembari memiringkan kepalanya. Matius menghela napasnya dan menambahkan.

“Itu dan beberapa potong ikan.“

Para murid tak bisa berkata apapun lagi. Tentu mereka punya argumentasi di hati mereka mengenai mujizat serupa yang dilakukan Yesus tempo hari. Namun, entah mengapa mereka sadar bahwa percuma saja mereka berargumen mengenai hal itu. Akhirnya, Yesus mengambil kantung itu dari Matius. Ia mendekati Yohanes lagi dan meminta ia berbicara pada para murid lainnya sementara ia akan berdoa untuk makanan itu.

Awalnya Yohanes enggan. Tapi, setelah ia melihat bahwa Yesus sudah mulai berdoa dan murid-murid yang lain terus-terusan memandanginya, akhirnya ia bicara juga.

“Aku tak mungkin lupa dengan peristiwa lima roti dan dua ikan untuk 5000 orang itu. Aku ingat betul mereka pergi meninggalkan Guru, meninggalkan kita semua. Aku tahu persis bahwa kalian juga kesal dengan respon itu. Aku benar-benar paham, percayalah.“ Yohanes menghela napas panjang. Ia menatap mata murid-murid yang lain. “Namun, aku rasa ini yang coba Guru katakan pada kita. Penolakan tidak boleh menghentikan kita untuk mengasihi. Memang terkutuklah mereka yang menolak kasih karunia dari Allah. Tapi, tetap mengasihi adalah respon yang harus kita miliki. Aku percaya bahwa barangsiapa mengasihi saudaranya, ia berada dalam terang. Kita mengasihi karena kita lebih dahulu dikasihi oleh Allah.“

Yohanes menitikkan air mata saat ia mengatakan semua itu. Tiba-tiba Yesus sudah berada di sampingnya dan merangkulnya. Yesus tersenyum sembari menatap dengan penuh arti lalu memberikan kantung tadi pada mereka.

“Dan inilah bukti penyertaan Allah pada orang yang tetap mengasihi sesamanya,” kata Yesus kemudian.

Semua murid kaget melihat betapa banyaknya roti dan ikan di kantung itu. Mereka terkejut namun juga bersukacita. Dan, tanpa sadar, tak ada satu pun di antara mereka yang tidak menangis.

“Hahaha, tenang, santai saja, masih ada banyak bakul berisi roti dan ikan di sana untuk semua orang di sini,” kata Yesus sambil menujuk belasan bakul yang penuh berisi roti dan ikan di belakangnya. 

Sisa hari itu adalah soal perenungan dan sukacita. Simon dan kawan-kawannya tahu bahwa hari itu bukan hanya tentang mujizat dan penyediaan. Ini adalah tentang perubahan yang harus muncul di hati mereka. Hari itu, mereka belajar banyak hal. Namun yang paling penting adalah sejak hari itu, Thomas menjadi yang paling rajin dalam memberi makanan pada orang lain. Ia bahkan bercita-cita untuk pergi ke sebuah tempat yang masih memiliki banyak orang yang miskin dan lapar. Sementara Simon, Andreas dan Yakobus tak pernah lagi berebut makanan. Sebaliknya, setiap kali tiba giliran makan, mereka selalu berebut untuk menjadi yang terakhir menerima jatah makanan. 

Sedangkan bagi Yohanes, ia bertekad untuk menuliskan apa yang ia katakan tadi. Segera saja ia meminta Matius untuk mengajarinya menulis.

* * *

© Copyright 2021 All rights reserved. Crafted by Thrive.