BACK
|Selah

Trust

Hari ini kita akan belajar soal trust issue. Trust issue adalah masalah yang bisa menimpa pria dan wanita. Definisi mudahnya adalah problema kepercayaan; keraguan pada segala sesuatu. Dapat pada manusia, situasi, Tuhan, dan banyak lagi. Well, Ini dia apa yang Alkitab katakan mengenai trust issue:

Wanita

Sarailah yang tertawa mendengar janji Allah, bukan Abraham. Oh ya, tentu kepercayaan Abraham juga tidak sesempurna itu, tapi yang ditegur Allah itu si Sarai. Jadi, pada dasarnya trust issue memang lebih bisa “menyerang” wanita dibandingkan pria. Maka dari itu, cerita mengenai Maria Magdalena dan Maria ibu Yesus benar-benar sebuah jawaban atas bagaimana seharusnya wanita meresponi trust issue. Maria Magdalena dan wanita-wanita lain adalah yang pertama datang ke kubur Yesus dan yang pertama mengetahui kebangkitan Yesus. Mereka pun serta-merta mempercayainya. Maria ibu Yesus lebih fenomenal lagi. Dia berkata pada Yesus untuk “melakukan yang seharusnya Dia lakukan” padahal Yesus (Sang Tuhan!) berkata bahwa waktunya belum tiba. Hal ini menjadi sangat luar biasa saat pada akhirnya Yesus melakukan apa yang ibu-Nya katakan. Tentu saja, dari sini juga bisa dinilai bahwa Maria ibu Yesus tidak mengatakan perkataan tersebut tanpa kepercayaan. Itu bukan sekedar kata-kata. Ada iman di baliknya. Iman yang besar, menurutku.

Pria

Abraham adalah bapa orang percaya. Secara tradisi, pria memang lebih sentral daripada wanita di Alkitab, namun jelas Tuhan tidak hanya sekedar memilih seorang pria saat dia memanggil Abraham. Ada kepercayaan yang besar di hati Abraham, sesuatu yang lebih besar dibandingkan istrinya. Maka dari itu kita bisa lihat bahwa pada dasarnya pria lebih mudah untuk percaya. Namun, bukan berarti pria tidak akan memiliki masalah ini. Petrus menyangkal Yesus 3x dan Thomas terang-terangan mengungkapkan ketidak percayaannya pada kebangkitan Yesus. Ini berarti pria dapat bermasalah dengan kepercayaan, jatuh karena situasi dan kondisi. Jadi, harusnya pria juga belajar untuk percaya, bahkan lebih daripada itu, untuk dipercayakan. Yang ini lebih sering bermasalah di pria daripada wanita; tentang dipercayakan. Maka dari itu banyak perkataan pada pria yang bertujuan untuk mengingatkan para pria agar dapat dipercaya bukan hanya berkata-kata. Contoh ultimat yang dapat kita pelajari tentu saja Yesus, yang hadir sebagai pria. Dia bukan hadir untuk menjadi pria yang dikagumi dan menjadi contoh ideal, namun wujud-Nya sebagai pria itu pun memiliki sebuah pesan penting; bahwa semua pria dapat menjadi seperti Dia.

Perjalanan yang panjang selalu menuntut kepercayaan yang lebih. Dimulai dari perjalanan Abraham dari Ur ke Kanaan, perjalanan Musa dan Israel dari Mesir ke Kanaan, perjalanan para Rasul dari “Kanaan“ ke seluruh penjuru bumi, hingga perjalanan kita dari dunia ini menuju ke sorga, pada kesempurnaan yang penuh dengan Tuhan Yesus. Satu hal yang pasti adalah, bahwa Tuhan dapat dipercaya. Bahkan sekalipun Abraham tidak melihat banyaknya keturunannya, sekalipun Musa tak melihat Kanaan, Yeremia tak melihat pertobatan, dan para rasul tak melihat dunia Kristen sekarang, namun mereka tetap percaya pada Allah hingga garis finish. Begitu juga seharusnya kita. 

“Christianity was started from trust, and in the end of everything, christianity is always about trust.”

~Philip Perdana, 2020

© Copyright 2021 All rights reserved. Crafted by Thrive.