BACK
|Behind The Bible

Sang Guru, Pertemuan dan Sebuah Panggilan



Yerusalem, 604 SM

Daniel berjalan dengan terburu-buru menyusuri lorong istana Yerusalem. Matahari sudah tinggi, dan itu yang membuatnya semakin mempercepat langkahnya. Dia tahu dirinya sudah terlambat untuk menghadiri pertemuan akbar hari itu. Tapi masa bodoh, pikirnya. Daniel bertekad untuk tetap sampai ke pelataran istana secepatnya.

Sesampainya di lorong terakhir yang menghubungkan kompleks tempat tinggal para keluarga bangsawan dan pelataran istana, Daniel mulai dapat mendengar suara sang pengkhotbah. Dia tersenyum tatkala mengenali suara siapa yang terdengar itu. Begitu bersemangat namun tetap berwibawa. Ia belum bisa mendengar kata-kata yang diucapkan sang pengkhotbah namun setelah berkali-kali menghadiri sesi yang serupa, Daniel mulai dapat menerka apa isi khotbah tersebut.

Tak berapa lama kemudian, di ujung lorong, terlihat tiga orang remaja lain yang sebaya dengannya telah menunggu kedatangan Daniel. Walaupun masih agak jauh, Daniel segera dapat mengenali siapa mereka. Senyumnya semakin lebar dan langkahnya semakin cepat. Tanpa sadar ia mulai berlari.

“Ah, akhirnya tiba. Tidak biasanya kau terlambat, Daniel,“ kata pria yang paling depan. Ia mengenakan jubah putih dan coklat, menenteng 2 buah perkamen papirus dan beberapa batu tulis. 

“Aku sedang dalam perjalanan saat kulihat juru minuman kita menjatuhkan 5 gelas anggur dari nampannya di depanku, yang tentu saja tak bisa kubiarkan begitu saja. Omong-omong, terima kasih karena membawakan alat tulis untukku, Hananya,” sahut Daniel. 

Hananya tersenyum lebar sambil menyerahkan alat tulis pada Daniel. Daniel menerimanya sembari menengok ke arah dua orang pemuda lainnya.

“Azarya, Misael, selamat pagi dan terima kasih sudah menungguku. Aku tahu Azarya sudah memprovokasi kalian untuk segera menghadiri pertemuan ini sesegera mungkin tanpaku,“ katanya sambil melirik ke arah Azarya.

“Haha, percayalah provokasinya lebih buruk dari yang kau kira,“ timpal Misael. Azarya hanya tersenyum kecil. Ia adalah yang paling tinggi dari mereka semua dan yang paling terlihat begitu tenang. 

“Baiklah, semua sudah lengkap. Sebenarnya kita tertinggal cukup banyak namun aku akan coba mendekati Barukh sore ini, barangkali ia mau membagikan sedikit catatannya pada kita. Kali ini akan kupastikan kita tidak terlibat masalah karena hal ini,“ kata Hananya.

“Bagus kalau begitu. Aku harap ucapanmu bisa dipercaya, Hananya. Jadi, ayo kita bergabung dengan seluruh rakyat Yehuda di sana!“ ajak Daniel.

Keempat remaja itu memasuki pelataran istana Yerusalem. Luasnya pelataran itu tersamarkan oleh banyaknya orang yang berdiri di sana. Daniel dan teman-temannya harus berdesakan dengan banyak orang untuk mendapatkan posisi yang lebih dekat dengan mimbar khotbah. Beruntung karena mereka adalah remaja-remaja yang lincah. Sekalipun sulit, mereka akhirnya mampu sampai di posisi yang lebih enak untuk mendengar khotbah tersebut. Tidak terlalu dekat, namun setidaknya dapat melihat dan mendengar dengan jelas.

Di atas mimbar tersebut, berdiri sang pengkhotbah yang juga adalah nabi terkenal. Daniel menjadi sangat bersemangat saat melihat wajah itu. Nabi Yeremia masih berkhotbah dengan gaya yang sama; ekspresif dan berapi-api. Usianya yang kini sudah lebih dari 40 tahun nyaris tidak memberi pengaruh negatif apapun pada semangat dan gairahnya dalam berkhotbah. Pesannya pun masih konsisten seperti apa yang selalu ia sampaikan sebelumnya; berita mengenai ancaman terhadap kerajaan mereka, Yehuda. Daniel mengenali arah dan tujuan khotbah Yeremia. Namun, segera ia tahu bahwa ada yang berbeda mengenai khotbah kali ini. Sesuatu yang lebih dalam dan keras. Daniel dapat menerka itu dari intonasi suara yang berbeda. Yeremia terdengar menahan tangis sembari ia berbicara.

“...Oleh karena kamu tidak mendengarkan perkataanku-perkataan-Ku, sesungguhnya, Aku akan mengerahkan semua kaum dari utara — demikianlah firman Tuhan — menyuruh memanggil Nebukadnezar, raja Babel, hamba-Ku itu; Aku akan mendatangkan mereka melawan negeri ini...“

Nada ancaman dan teguran terdengar jelas di kalimat tersebut. Di satu sisi, Yeremia begitu emosional saat mengatakannya, membuat nafas Daniel dan kawan-kawannya tercekat saat mendengar khotbahnya.

“Oh tidak! Apa yang dia maksud adalah raja baru Kerajaan Babilonia itu? Kudengar dia mengalahkan aliansi Mesir dan Asyur di Karkemis belum lama ini,” bisik Misael. 

“Iya. Kurasa kerajaan baru ini sungguh gila. Mereka baru saja menghancurkan Niniwe dan bahkan Haran, lalu kini mereka mengarahkan serangan ke Yehuda? Habislah kita!“ sahut Azarya, sedikit menahan suaranya agar tetap berbisik.

“Diam! Sstt, dengarkan dia dulu. Tutup mulut kalian!“ kata Daniel akhirnya. Ketiga remaja yang lain segera mengarahkan fokus mereka ke khotbah Yeremia lagi.

“...Maka seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya...“

Daniel terhenyak. ‘Tujuh puluh tahun?!‘ katanya dalam hati. Daniel benar-benar terkejut dengan perkataan tersebut. Hananya langsung berhenti mencatat sementara Misael dan Azarya berpandangan satu sama lain, tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Seluruh rakyat pun terkejut, berkomentar satu sama lain mengenai hal itu. Beberapa wanita mulai menangis, para ibu mendekap anaknya lebih erat dan para pria terlihat bingung. Perlahan namun pasti, kepanikan mulai melanda Yerusalem.

“Apa maksudnya ini?! Apa waktu kita tinggal sedikit?“

”Mungkin ini nubuat palsu! Mungkin ini kebohongan saja!”

“Hentikan khotbahnya, turunkan Yeremia!“

Suara protes para penduduk semakin riuh. Para tentara mulai mengamankan tangga menuju istana dan meredakan situasi. Sementara itu, Yeremia tetap berusaha menyelesaikan khotbahnya. Ketika sudah selesai, ia menghapus air matanya sebelum akhirnya turun dari mimbar utama. Suara protes meninggi seiring dengan turunnya dia dari mimbar tersebut. Yeremia berjalan masuk ke salah satu koridor yang menuju ke taman istana, diikuti oleh Barukh yang kerepotan membawa banyak alat tulis dan perkamen-perkamen. 

Melihatnya bergerak pergi dengan cepat, Daniel bergegas mengejarnya. Ketiga sahabatnya segera mengikuti Daniel, berdesak-desakkan di tengah riuhnya rakyat yang mengeluh dan marah. Mereka menyibakkan kerumunan dengan susah payah hingga akhirnya tiba di depan koridor tersebut. Segera saja mereka berlari menghampiri Yeremia.

“Bapa! Bapa Yeremia, tunggu dulu!” teriak Daniel. Ia menghentikan langkahnya karena lelah. Di belakangnya, ketiga sahabatnya berlari menyusul.

Yeremia menghentikan langkahnya, menengok ke belakang untuk melihat sekilas ke arah Daniel, lalu berbalik dan kembali berjalan. Daniel  segera berlari menuju Yeremia sambil berteriak memanggil nabi tersebut.

“Bapa Yeremia, tunggu dulu! Kami ingin bertanya sesuatu! Kami ingin bertanya soal…” Langkah Daniel terhenti seketika saat Yeremia kembali membalikkan badan ke arah Daniel.

“Nak, dengar! Aku tidak punya waktu untuk meladeni pertanyaanmu. Tidakkah kau lihat bangsa itu di pelataran tadi? Tidak lama lagi mereka mungkin akan menyerang atau membunuhku. Jadi, sebelum terlalu terlambat, aku harus mendiktekan perkataanku tadi pada Barukh. Kembalilah nak, kau dan ketiga temanmu itu!“ hardik Yeremia.

Daniel baru hendak membalas perkataan Yeremia saat Hananya, yang bersama kedua orang lainnya baru saja tiba di tempat Daniel berdiri, angkat bicara.

“Maaf, Tuan Yeremia. Maaf atas kelancangan teman saya yang seenaknya saja memanggil Anda ‘bapa’…” Ia menengok sekilas pada Daniel saat mengatakannya. “…dan maaf juga karena kami mengganggu jadwal Anda yang padat itu. Kami hanya tidak bisa menahan keingin tahuan sekaligus kekaguman kami pada Anda, Tuan Yeremia. Kami ini, ehmm, sebut saja penggemar berat Anda! Kami mencatat semua khotbah Anda seperti Barukh mencatatnya dan mendatangi semua sesi yang Anda berikan di seluruh sudut Yerusalem, bahkan di Istana Daud yang megah ini, tuan.“ 

Yeremia mengernyitkan dahinya. Ia masih belum mengatakan apapun dan hanya memandang keempat remaja di depannya.

“Benar, tuan! Perkenalkan, nama saya Misael. Mereka adalah teman-teman saya. Yang paling ujung itu Azarya, selanjutnya Hananya dan teman saya yang lancang ini adalah Daniel. Kami mengikuti semua pengajaran Anda tentang ancaman dari utara, reformasi peribadatan, Bait Suci dan bahkan tentang Pembuangan Besar, yang pada hari ini kami dengar klimaksnya. Jadi, anggap saja ini seperti, katakanlah, momen sapa penggemar mungkin. Hehe, yeah, kurang lebih begitu,“ tambah Misael.

Keempat remaja itu kini diam, menunggu jawaban dari Yeremia yang kini tanpa sadar sudah menghadapkan seluruh badannya ke arah keempat remaja itu. Barukh terlihat kebingungan di samping Yeremia. Ia bertukar pandang dengan Hananya yang kini memelototinya, menyiratkan pesan agar Barukh diam dan  tidak membuat masalah. Bibir barukh terasa terkunci rapat melihat raut wajah Hananya.

Yeremia menghela napas panjang. Ia tak mengira bahwa dirinya akan dihentikan oleh empat remaja yang bahkan tidak ia kenali sama sekali.

“Baiklah. Pertama-tama, jangan menyebut diri kalian penggemarku. Aku tak punya penggemar dan tak akan pernah punya. Berikutnya, kalian harus tahu bahwa hari ini bukanlah klimaksnya.” Yeremia berhenti sejenak sambil menatap mata mereka dengan lebih dalam. “Masih ada lagi. Perkataan Tuhan belum selesai.“

Keempat remaja tersebut tertegun mendengarnya. Muncul fase diam yang tak mengenakkan di antara mereka setelah itu. Yeremia menghela napas sekali lagi lalu melanjutkan perkataannya.

“Baiklah, aku tidak punya banyak waktu. Mari duduk di sana,“ kata Yeremia kemudian. 

Keempat pemuda itu tersenyum lebar mendengarnya. Mereka saling berpandangan dengan penuh semangat. Mereka semua pergi ke sebuah pohon ara yang besar di tengah taman tersebut untuk duduk di bawah naungannya. Yeremia memposisikan diri di tanah yang lebih berbukit sementara keempat remaja itu beserta Barukh duduk di bagian yang lebih rendah. Hananya langsung mendudukkan dirinya di samping Barukh, yang menatapnya dengan sungkan sambil meringis. Hananya memberi kode agar Barukh segera duduk. Barukh hanya sedikit saja lebih tua dibanding mereka bertiga. Tidak heran kalau mereka berteman dekat. Tak lama setelah mereka semua duduk, segera masing-masing anak mempersiapkan catatanya. Daniel yang pertama bertanya.

“Tentang ancaman dari utara sekaligus pembuangan besar itu. Yeah, hal itu sangat mengejutkan, sih, tapi oke, lah. Mmm, apakah itu tentang Nebukadnezar, raja Babilonia yang baru saja memenangkan pertempuran di Karkemis beberapa waktu yang lalu atau bukan?“

Yeremia tersenyum kecil, tersembunyi di balik jenggot dan kumisnya yang sedikit tebal. Rambut coklatnya yang panjang sebahu menari-nari diterpa angin.

“Jika dilihat dari pertanyaanmu maka kau pasti keturunan bangsawan, benar?“ tanya Yeremia.

Daniel mengangguk. “Ya, kami semua keturunan bangsawan. Kami belajar soal politik dan hubungan luar negeri juga, makanya kami pun turut mendengar berita tentang pertempuran di Karkemis, lebih awal daripada orang-orang yang lainnya.“

Yeremia mengangguk kecil. Ia sekali lagi menarik napas panjang.

“Baiklah, nak. Dengar, aku tak pernah suka jika hanya menjawab pertanyaan yang tidak membawa perubahan apapun pada diri si penanya. Aku tak mau membuang waktu untuk memenuhi keingintahuan saja. Jadi, jangan gunakan penjelasanku ini untuk hanya sekedar bergosip, tapi gunakanlah untuk menyelamatkan lebih banyak orang. Karena yang kau tanyakan itu adalah soal bangsa, Daniel. Dan aku yakin ini bukan dalam rangka menyelesaikan tugas Midrash kalian, kan? Oke, apa kalian paham?“

Ketiga anak itu mengangguk. Bahkan Barukh tanpa sadar ikut menganggukkan kepalanya.

“Bagus. Nah, soal pertanyaan tadi, sebenarnya aku tidak bisa mengatakan jawabannya begitu saja karena itu adalah perkataan nubuat, artinya aku hanya diperintahkan untuk mengatakan apa yang akan terjadi di masa depan, bukan menyuguhkan penyingkapannya. Tapi, kalau secara pribadi sih aku juga sependapat denganmu, bahwa itu adalah tentang Kerajaan Babilonia. Nebukadnezar memanglah seorang raja kafir dari negara kafir, namun Tuhan berkata ia adalah hamba-Nya! Dapatkah kau percaya itu? Tuhan memakai seseorang yang bukan umat-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya,“ jelas Yeremia.

“Kenapa Tuhan melakukan itu? Apakah Ia kekurangan orang yang mencintai-Nya di Yehuda? Bagaimana jika ada dua atau tiga orang yang bersepakat untuk hidup benar bagi Dia? Tidakkah itu cukup untuk Ia pakai?” tanya Daniel lagi.

“Bukan begitu. Ini bukan soal keberadaan orang benar di tanah Yehuda, walau ya di sini memang tidak banyak lagi orang benar. Kau harus paham bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja. Tuhan memakai Rahab, Rut, Kaleb dan bahkan Yitro, untuk menyampaikan maksud hati-Nya. Mereka semua bukan orang Israel. Mereka penyembah berhala dan orang kafir. Namun, pada akhirnya mereka dan segenap keluarganya mempercayai Tuhan, Elohim kita. Mereka menjadi bagian dari kita. Bukan tidak mungkin bahwa maksud Allah mengenai pembuangan besar nanti adalah maksud penyelamatan!“

“Apa maksudmu?“

“Penyelamatan. Bahwa terbuangnya kita ke negeri Babilonia adalah jalan masuk agar lebih banyak orang di negeri tersebut percaya pada Allah kita, sama seperti apa yang Nabi Yunus lakukan.“

“Termasuk Nebukadnezar?“

“Ya, termasuk sang raja.“

Daniel terhenyak. Seumur hidupnya belum pernah ia mendengar penjelasan seperti ini.

“Jadi, kau mencoba bilang bahwa berada di tengah-tengah orang kafir itu adalah suatu al yang baik?“ tanya Misael.

“Tuhan adalah Allah yang baik. Jadi, perbuatan yang Dia lakukan sudah pasti baik,” jawab Yeremia.

“Ya ampun, pengajaran ini susah masuk ke kepalaku. Oke, baiklah, kalau begitu berarti pembuangan selama 70 tahun itu tidak sepenuhnya buruk?” tanya Daniel memperjelas.

“Aku tidak menyangkal bahwa itu buruk. Sebenarnya, mengatakannya saja adalah hal yang berat di hatiku. Namun, kita harus menyetujui ide Allah yang satu ini; bahwa alih-alih pembuangan, masa itu adalah masa pewartaan. Kita diberi 70 tahun untuk mewartakan maksud Allah di Babilonia.“ Yeremia berhenti sejenak.

“Atau, kalau kau mau tinggal dengan misi itu di sana, maka berarti bisa lebih dari itu,“ lanjutnya sambil menatap Daniel dengan dalam.

Daniel sekali lagi terdiam. Ia menatap mata coklat Yeremia yang memandangnya dengan penuh arti. Entah mengapa Daniel merasa kata-kata itu benar-benar ditujukan hanya bagi dirinya, walau dia tahu persis tidak ada alasan tertentu bagi Yeremia untuk mengatakan hal itu selain sekedar menyodorkan sebuah kemungkinan. 

“Hah, kalau waktu itu telah usai pasti tidak ada orang yang akan tetap bertahan di sana. Benar begitu kan teman-teman?” celetuk Misael tiba-tiba. 

Tak ada yang menanggapi Misael. Semuanya hanya diam mendengar kalimat Yeremia. Misael memandang ke teman-temannya sembari tersenyum konyol, namun tak lama kemudian ia juga terdiam kembali. 

Yeremia memecahkan keheningan lewat perkataannya.

“Aku tidak tahu siapa di antara kita yang akan dibawa oleh Nebukadnezar dalam pembuangan nanti. Namun, satu hal yang kutahu dengan pasti adalah bahwa itu akan menjadi masa yang baru dan baik. Penghancuran dan pembunuhan memang tidak terhindarkan. Mungkin kita akan kehilangan keluarga dan sahabat kita. Tetapi percayalah bahwa itu harga yang pantas bagi misi yang kita bawa. Setiap penderitaan dan kesedihan yang menyertainya hanyalah sementara. Allah tahu apa yang Ia perbuat. Dan, jika kesedihan itu melingkupi kalian suatu hari nanti, percayalah bahwa tak ada kesedihan yang Sorga tak bisa sembuhkan.” 

Keempat remaja itu menganggukkan kepala, diam-diam mengaminkan setiap butir kata yang terucap dari bibir Yeremia. Barukh mencatat dengan bergetar. Kali ini ia tak bisa menulis dengan rapi karena dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Kata-kata gurunya benar-benar menggetarkan perasaannya.

“Tapi, guru, apa yang terjadi kalau kita justru mati dalam misi? Tentu kita tidak akan membawa perubahan apapun jika kita mati, bukan?” Azarya yang sedari tadi hanya diam akhirnya bicara. 

“Kau ada benarnya Azarya. Kematian memang dapat menjadi batu sandungan bagi sebuah perjalanan misi. Tapi, ingat juga bahwa kematian adalah pemantik yang kuat bagi sebuah pergerakan,“ jawab Yeremia.

“Contohnya?“ tanya Azarya.

“Oh, keterlaluan sekali, tidakkah kau belajar di Midrash soal hal-hal ini?“ Yeremia tertawa. Namun ketiga keempat remaja itu hanya menggeleng sambl tetap memasang wajah serius. Bahkan, Barukh pun menggeleng.

“Oh, Tuhan, kalian pasti bercanda,” respon Yeremia. “Baiklah, begini. Tokoh-tokoh besar seringkali harus mati tanpa melihat impian besarnya terjadi. Sebut saja Musa, Abraham dan Daud. Musa tak menginjakkan kaki di tanah kita ini, Abraham tak melihat anak-anak yang banyak seperti yang Allah janjikan, dan Daud tak melihat Bait Suci kita yang megah itu,” lanjut Yeremia sambil menunjuk Bait Suci Yerusalem yang berada tidak jauh di sebelah Istana Kerajaan. Bangunan itu berdiri kokoh dan besar, yang paling menonjol dari semua bangunan. “Mereka tak melihat penggenapan janji, tapi pergerakan besar yang melihat dan berada di dalam janji itu muncul dan bahkan menjadi nyata setelah kematian mereka. Justru kematian mereka hanyalah permulaan dari sesuatu yang lebih besar.”

Azarya tak melanjutkan pertanyaan. Kini ia hanya mengangguk pelan menanggapi jawaban Yeremia. Sang Guru kini tersenyum, memandang  kelima anak muda itu dengan tatapan penuh arti. Tampaknya ia telah menemukan kalimat penutup yang tepat.

“Seseorang mungkin akan mati sebagai penyampai pesan, namun yang lainnya akan bangkit sebagai bukti dari pesan itu.“

Kelima anak muda itu meresapi kata demi kata dengan dalam. Mereka tak bisa mendefinisikannya, entah itu nubuat atau bukan. Namun, satu hal yang pasti adalah mereka tahu kalimat itu ditujukan bagi mereka, sekalipun tak ada nama yang diungkap di sana. Daniel tidak tahu bagaimana ia harus memulai, namun dalam hatinya ia sudah bertekad untuk menjawab panggilan bagi bangsa-bangsa itu.

* * *

© Copyright 2021 All rights reserved. Crafted by Thrive.