BACK
|Open Letters

Just Be Held, Sweetheart

Halo, aku Z.

Entah kenapa, dari kecil aku suka melihat Papa melukis atau bekerja tanpa mengusiknya. Bukannya nggak berani, tapi aku cuma mengagumi ketenangan dan auranya yang cool. Aku cuma duduk dan memperhatikannya aja. Kehadirannya membuatku nyaman tanpa perlu mengucapkan banyak kata. Papa jugalah yang paling mengerti aku, kalau boleh dibilang.

Dalam diam, kami berbagi kasih. Memang, dibalik kelembutan dan ketenangannya, dia adalah orang yang cukup tegas dan lumayan sarkastik. Tapi, mungkin justru didikan dan ajaran Papalah yang membuat sifatku menjadi seperti dia juga; tidak terlalu banyak omong dan jarang mengungkapkan perasaan lewat kata-kata atau, ehm, cool.

Hidup dalam keluarga Kristiani dengan kehadiran Papa yang sangat lovable membuat aku jadi bisa merasakan kehadiran Tuhan sekalipun dalam kesusahan. Hidup keluarga kami cukup bahagia, hingga pada suatu hari, saat aku berumur 7 tahun, Papa dirawat di rumah sakit karena penyakit jantung. 

Di titik inilah aku mulai kecewa dengan Tuhan, walau aku masih melayani-Nya. Aku masih tetap menjadi anak perempuan yang sama seperti dulu, walaupun di dalam hati ada banyak perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan mudah.

Setelah beberapa waktu, Papa pulang dari rumah sakit dan memilih rawat jalan. Aku cukup senang walaupun masih ada kekhawatiran. Tapi, di tanggal 10 Desember 2007, sekitar pukul setengah tujuh, waktu Papa dan Mama sedang ngobrol, Papa tiba-tiba ambruk. Waktu itu, aku masih berumur 8 tahun dan benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Singkat cerita, setelah ia dibawa oleh mobil ambulan, nyawanya tidak tertolong.

Dalam diam, aku merasakan kekosongan yang luar biasa. Kecewa? Iya, pasti. Aku kecewa sama Tuhan. Aku marah. Aku kecewa pada banyak orang, terutama diri sendiri karena banyak hal yang tidak bisa diungkapkan oleh anak perempuan 8 tahun. 

Aku nggak bisa merelakan kepergian Papa selama bertahun-tahun.

Saat usiaku 14 tahun, aku hampir jadi seorang ateis karena, yah, hal sepele. Tuhan yang saat kecil aku rasa ada, "menghilang" selama beberapa tahun. Aku berdoa, tapi nggak bisa merasakan hadirNya. Aku meragukanNya, menganggap Tuhan sebagai formalitas dan bahkan hampir meninggalkanNya. Aku juga jatuh dalam dosa self-harming dan hampir bunuh diri. Kurang lebih 8 tahun menjadi seorang pendendam dan hampir 2 tahun dalam diriku terjadi kekosongan. Sangat kosong sampai aku terus-menerus menyakiti diri sendiri dan menguji rasa sakit tersebut melalui self-harming.

Sampailah akhirnya di tahun 2015, waktu aku sudah berusia 16 tahun. Aku lupa tepatnya bagaimana, tapi suatu hari di tengah malam, aku menangis di kamar. Menangis, ya, menangis seperti anak kecil. Aku mengutuki diri sendiri karena banyak hal. Semua kekecewaan keluar dalam tangisan. 

Tiba-ti ba, ada suara lembut yang menenangkan hatiku.

"Tidak apa-apa," begitu kata suara itu. 

Yang aku tahu, suara itu bukan berasal dariku, tapi telingaku juga tidak bisa mendengar suara itu. Suara yang sangat lembut dan tenang, sampai aku cuma bisa diam dan menikmati suara itu saja sampai tertidur. 

Akhirnya, beberapa hari kemudian aku bercakap-cakap dengan guruku, yang sekarang menjadi Bapak Rohani bagi banyak orang termasuk aku. Dia bilang seperti ini: 

"Kamu bisa mendengar suara Tuhan, tapi kamu tidak tahu."

Ya, suara itu adalah suara Tuhan. Aku pernah dengar, Tuhan dekat dengan orang yang sakit hati, tapi aku kira itu cuma sebuah kata-kata biasa. Ternyata benar, Tuhan dekat dengan aku. Dan suaraNya benar-benar lembut, menguatkan, sesuai dengan kata-kata di Alkitab. Tuhan itu ada dan aku kembali percaya kepadanya sepenuh hati.

Walaupun begitu, hingga bulan Agustus tahun itu, aku masih jatuh bangun dalam self-harming dan gambar diri. Tak lama kemudian, aku mengikuti sebuah camp dan di sebuah sesi, Tuhan "menghajar" aku habis-habisan. Dia bilang, aku belum melepaskan kepergian Papa 100%. Dan ya, setelah pikiran aku berdebat dan menjadi kacau untuk beberapa saat, akhirnya aku melepaskannya. Walaupun awalnya sakit, but finally I stopped holding on my hurt and was held by His grace.

Setelah pelarian dari Tuhan bertahun-tahun, aku kembali dan belajar banyak hal bagaikan ‘bayi rohani’. Karunia dan visi yang Tuhan berikan pun lebih hebat dan keren daripada hal-hal yang perlu aku relakan. Ternyata, Tuhan tidak selalu memanjakan kita, namun, sebagai seorang Bapa, Ia selalu mengawasi dan menguatkan kita serta membimbing kita di trek yang benar. Tidak selamanya kita jadi bayi rohani, kan? 

Untuk kamu yang masih jatuh bangun dalam dosa, hey, perhaps you need to stop holding on your hurt and just be held. Ikuti dan pegang janji beserta kata-kataNya. Taat. Lepaskan egomu dan buang jauh-jauh masalahmu yang tidak lebih penting dari visiNya. Karena Tuhan selalu besertamu dan Dia mencintaimu lebih dari apapun.

Z sign out! ♡

© Copyright 2021 All rights reserved. Crafted by Thrive.