BACK
|Selah

Dengarlah!

-Chrisel

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.
(Ulangan 6:4-5)

Jika kita mengambil Alkitab portable, kita akan menemukan begitu banyak kata “dengarlah” yang akan muncul di setiap bagian kitab, pasal, hingga ayat. Kata ini bahkan muncul 112 kali dalam 108 ayat. Bahkan bisa beratus-ratus kata lagi yang bisa kita temukan ketika mencari keseluruhan keluarga kata ini. Pengulangan akan sesuatu menunjukan seberapa penting hal tersebut.

Sejatinya manusia sulit “mendengarkan” sesuatu. 

Lihat saja, masalah apa yang paling menjengkelkan bagi orang tua dalam mengasuh anaknya? Tentu saja, anak itu tidak mendengarkan apa kata orang tuanya. 
Padahal “mendengarkan” sebegitu pentingnya, sehingga di dunia militer ketika seorang prajurit tidak mendengarkan instruksi dari komandannya, kekalahan dari perang pun sudah di depan mata.

Kata ini begitu penting sehingga menjadi gong pembuka dalam doa utama umat Yahudi setelah bangun dan menuju tidurnya.

Shema, itulah kata aslinya yang mewakili dari “dengarlah”. Arti yang sesungguhnya merupakan mendengarkan dengan saksama dan diikuti dengan tindakan atas setiap instruksi. 

Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya? Di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri, di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk, ia berseru dengan nyaring: "Hai para pria, kepadamulah aku berseru,  kepada anak-anak manusia kutujukan suaraku. Hai orang yang tak berpengalaman, tuntutlah kecerdasan, hai orang bebal, mengertilah dalam hatimu. Dengarlah, karena aku akan mengatakan perkara-perkara yang dalam dan akan membuka bibirku tentang perkara-perkara yang tepat.
(Amsal 8:1-6)

Pada dasarnya segala yang kita perlukan sudah tersedia di sekitar kita, hikmat Tuhan berbicara terus menerus lewat segala hal, melalui media sosial kita, melalui setiap kejadian di sekeliling kita, melalui orang – orang, dan apapun itu. Hikmat itu berseru – seru di tempat yang tinggi! 

Jika kita meneruskan membaca keseluruhan Amsal 8 ini hingga ayat 13, kita akan menemukan hal yang paling dibenci oleh Hikmat sekaligus musuh terbesar dalam mendengarkan: Kesombongan.

Tampaknya kesombongan kita telah menutupi mata kita terhadap segala berkat dan jawaban dari-Nya.

Akhirnya, semua jawaban atas segala hal yang kita perlukan sudah ada di sekeliling kita, kuncinya: lepaskan kesombongan itu dan mulailah mendengarkan-Nya.

Hai Israel, Dengarlah!

© Copyright 2021 All rights reserved. Crafted by Thrive.