BACK
|Behind The Bible

Aku Pulang

Meja panjang yang terletak di tengah ruangan besar ini mulai dipenuhi berbagai jenis makanan yang akan membuat lapar siapa pun yang mencium aromanya. Bunga-bunga yang beraneka warna diletakkan untuk menambah keindahan di setiap sudut ruangan. Tidak lupa juga pilar-pilar yang berdiri megah menambah kesan mewah dari ruangan ini. Semua orang tampak sibuk berlalu-lalang menyiapkan keperluan pesta. Ayah yang sedang berada di sebelahku begitu antusias mengarahkan pekerja-pekerjanya. Katanya, pesta yang dibuat untuk merayakan kepulanganku ini harus menjadi pesta yang sangat meriah. Ya, aku baru saja kembali ke rumah ini setelah dulu aku memutuskan untuk pergi dan membawa setengah dari harta ayahku. Aku akan menceritakan apa yang sudah aku alami dan berharap semoga kamu tidak melakukan hal yang serupa dengan yang aku lakukan kemarin.

Semuanya dimulai saat aku meminta harta warisan yang menjadi hakku. Aku tahu tidak seharusnya aku melakukan ini, apalagi ayahku juga masih hidup. Tapi, saat itu aku tergiur dengan kehidupan yang ada di luar rumah besar milik ayahku. Aku dengar di luar sana orang muda seusiaku hidup bebas tanpa harus diatur oleh orang tua mereka. Mereka boleh bergaul sesuka hati, bahkan pulang larut malam pun tidak jadi masalah. Mereka boleh pergi ke suatu tempat bersama dan berpesta sampai pagi. Para wanita suka menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan dan berlomba-lomba memiliki perhiasan terindah. Para pria sibuk memamerkan harta mereka untuk memikat wanita-wanita cantik yang bertebaran di mana-mana. Semua orang ingin terlihat sempurna di mata orang lain, begitu pun aku.

Awalnya, ayah tidak setuju untuk membagikan harta warisan lebih cepat. Tapi, setelah sedikit berdebat akhirnya ayah luluh dan mau memberikan harta yang menjadi hakku. Tanpa membuang waktu lagi, aku menjualnya dan segera pergi dari rumah. Masih jelas di ingatanku bagaimana raut sedih di wajah ayah saat aku meninggalkan rumah. Aku bahkan tidak memberitahunya kemana dan bersama siapa aku akan pergi. 

“Nak, jika suatu hari kamu dalam kesulitan, pulanglah! Jangan ragu, pintu rumah ini selalu terbuka bagimu,” kata ayah saat kami akan berpisah di pintu gerbang. 

“Aku tidak akan kembali, yah. Aku akan hidup dengan sangat bahagia sesuai keinginanku. Tolong jaga diri ayah dengan baik!” sahutku. 

Ayah tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam menatap kepergianku. Dari jauh aku melihatnya samar mengusap pipinya. Sepertinya Ayah menangis.

Setelah keluar dari rumah aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh. Dengan banyaknya uang yang aku miliki, aku tidak memiliki kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Penginapan mewah dan teman-teman baru dengan mudah aku dapatkan. Setiap hari aku berpesta dengan teman-temanku. Jika bukan di penginapanku, kami akan pergi ke suatu tempat yang disewa khusus untuk kami. Semua yang ada di lemariku adalah barang-barang terbaik yang aku beli untuk mendukung penampilanku. Saat merasa lapar, aku tidak perlu repot-repot memasak. Tinggal beli dan dalam sekejap aku bisa kenyang. Aku mendapatkan semua yang aku inginkan. Aku bebas melakukan apapun tanpa harus diatur oleh ayah. Teman-temanku selalu ada untukku. Tidak jarang, di antara mereka ada yang ikut tinggal bersamaku. 

“Aku malas pulang ke rumah. Dan lagi tempat ini terlalu besar untuk satu orang saja,” tutur salah satu temanku saat aku bertanya mengapa dia sering menginap. 

“Lagipula siapa yang butuh rumah kalau bisa mendapatkan segalanya di sini,” ucap temanku yang lain. Kami tertawa mendengarnya. Betul juga. Kalau bisa mendapatkan segalanya di sini, kenapa aku harus pulang ke rumah?

Untuk beberapa saat, semua berjalan dengan sangat baik. Aku sangat menikmati hidupku di sini. Semua berjalan sesuai dengan yang aku inginkan. Akan tetapi, aku melupakan sesuatu. Pengeluaranku sangat banyak, tanpa ada pemasukan sepeser pun. Aku terkejut saat melihat sisa uang yang aku miliki. Ini tidak akan cukup untuk membayar sewa penginapan dan tagihan-tagihan lainnya. Tidak apa-apa. Aku masih punya teman-teman yang baik padaku. Mereka selalu ada di sekitarku dan aku yakin mereka juga akan membantuku saat uangku habis nanti. 

“Hei, aku harus membayar sewa penginapan. Hanya saja, uang yang aku miliki sekarang tidak cukup. Bisakah aku meminjam dari kalian?” Aku mencoba mencari bantuan.

“Apa kau lupa berapa lama aku tidak pulang ke rumah? Aku sudah tidak punya uang. Coba minta sama yang lain dulu,” sahut salah satu temanku. 

“Hei, aku juga tidak punya uang dan hari ini aku harus pulang ke rumahku. Aku duluan ya!” pamit temanku yang lain. 

Satu per satu temanku pun meninggalkanku saat aku meminta bantuan mereka. 

“Hei, dunia ini kejam, kawan. Kalau kau tidak punya uang, maka kau juga akan kehilangan segalanya. Hubungi aku kalau kau sudah punya uang lagi untuk berpesta.” Itu temanku yang terakhir. Setelah berkata demikian, dia juga meninggalkanku. 

Pada akhirnya, aku kembali sendiri. Semua orang meninggalkanku saat aku tidak punya uang lagi. Aku juga berada jauh dari ayah dan kakakku. Segala milikku sudah habis terjual untuk membayar bermacam-macam tagihan. Aku harus mencari pekerjaan agar bisa bertahan hidup. Aku tidak butuh ayah atau teman-teman yang baru saja meninggalkanku. Pasti ada suatu tempat yang dapat memberiku pekerjaan yang layak. 

Berhari-hari mencari pekerjaan, sepertinya nasib baik belum berpihak padaku. Aku baru sadar ternyata aku tidak memiliki kemampuan apa pun. Memasak dan membersihkan rumah saja tidak pernah aku lakukan. Saat hampir putus asa, tanpa sadar aku tiba di suatu ladang tempat babi-babi sedang berkumpul. Dari sini aku bisa melihat tidak ada seorang pun yang menjaga kawanan babi itu. Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari menuju bangunan kayu yang tidak jauh dari ladang, berharap bisa bertemu dengan sang pemilik. Benar saja, di sana aku bertemu seorang petani tua yang sedang merapikan tumpukan jerami. 

“Permisi tuan, adakah pekerjaan yang dapat saya lakukan di ladang milik tuan?” tanyaku pelan. 

“Ah, kebetulan sekali anak muda. Aku sudah terlalu tua untuk menjaga kawanan babi yang ada di ladang sebelah sana. Dapatkah kau melakukannya untukku? Aku akan memberimu gaji yang sepadan.” Petani itu berkata-kata sambil terus merapikan jerami tanpa menoleh ke arahku. 

“Baiklah, aku akan melakukannya untukmu. Terima kasih, tuan!” 

Syukurlah aku bisa mendapat pekerjaan. Aku segera berlari menuju ke ladang dan mulai melakukan tugasku.

Hari sudah sore, babi-babi yang tadi berada di ladang sudah kembali ke kandang dan diberi makan. Melihat babi-babi itu makan, aku menjadi semakin lapar. Sejak tadi malam, tidak ada makanan yang masuk ke perutku. Aku hanya minum sedikit air yang disediakan untuk para pekerja di ladang. Karena sudah tidak kuat lagi, aku memberanikan diri untuk meminta sedikit dari ampas makanan babi itu. Sayangnya, mereka menolak memberikannya padaku. 

“Ini adalah makanan untuk babi. Baru sebentar saja bekerja kau sudah berani memintanya? Apa kau lupa negeri ini sedang dilanda kelaparan?” ucap pekerja yang lain. 

Aku menyerah. Tidak ada gunanya berdebat dengan mereka. Mereka tidak akan memberikannya walau sesuap saja. Ya, kelaparan di negeri ini membuat semua orang menjadi ganas dan menyeramkan.

Dalam keadaanku sekarang, aku teringat pada pekerja-pekerja yang tinggal di rumah ayahku. Mereka mendapat makanan yang cukup dan pastinya lezat. Mereka juga punya tempat tinggal, tidak seperti aku. Aku mulai berpikir, bagaimana jika aku kembali saja ke rumah ayahku? Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar saat memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku sudah tidak layak lagi untuk disebut sebagai anak ayahku. Tapi, mungkin saja aku bisa mengerjakan sesuatu di ladang tempat kakakku bekerja. Aku lebih baik menahan rasa malu daripada harus mati kelaparan di sini.

Setelah perjalanan panjang, akhirnya aku bisa melihat rumah ayahku dari jauh. Rumah yang sangat besar dan megah. Sedikit lagi dan aku akan tiba di sana. Hanya saja, aku harus bagaimana saat bertemu ayahku? Haruskah aku berlutut di depannya? Aku bingung harus bertindak seperti apa. Sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri, dari rumah besar itu mataku menangkap sosok yang berlari ke arahku. Aku menyipitkan mataku berharap bisa menangkap lebih jelas siapa sosok itu. Ah, tidak salah lagi, itu ayahku. 

Dia tampak berlari ke arahku. Aku bingung harus bagaimana. Seluruh tubuhku mendadak kaku. Aku belum siap bertemu ayahku secepat ini. Bahkan beberapa saat yang lalu aku masih memikirkan apa yang harus aku lakukan saat berada di hadapannya. Dia terus berlari dan mengikis jarak di antara kami. Tanpa keraguan sedikit pun, dia langsung memelukku erat. 

“Ayah, aku telah melakukan kesalahan besar. Maafkan aku yang telah meninggalkan ayah. Aku tidak pantas lagi disebut anak ayah. Tolong jadikanlah aku salah satu dari pekerja di rumah ayah,” ucapku tanpa membalas pelukan ayah. Tapi, ayah seolah tidak menghiraukan perkataanku. Dia tetap memelukku erat. 

“Ayah, tolong lepaskan aku. Aku belum mandi berhari-hari. Bahkan bau babi masih menempel padaku. Nanti ayah juga ikut kotor seperti aku.” Aku berusaha melepas pelukan ayah. 

Sekali lagi, ayah tidak menghiraukan perkataanku. Dia bahkan semakin mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin aku jauh-jauh darinya. Aku menyerah. Aku membiarkan ayah melakukan apa yang dia inginkan. Aku tidak lagi memberontak dalam pelukannya. Saat itulah dia mengeluarkan kalimat pertamanya setelah pertemuan kami kembali. 

“Selamat datang di rumah, anakku.” 

Hanya satu kalimat, namun berhasil membuat pertahananku runtuh. Aku menangis keras dalam pelukan ayahku. Setelah semua yang aku lakukan, ayah masih menganggap aku anaknya. Saat itu aku baru menyadari sesuatu. Pelukan ayah adalah tempat ternyaman untukku.

Setelah puas meluapkan tangisan kami, ayah memakaikan jubah terbaik padaku. Tidak lupa juga cincin dan sepatu yang indah sebagai tanda bahwa aku kembali menjadi anak di rumah besar ini. Aku tidak pernah berpikir akan disambut seperti ini. Pelukan ayah, identitas yang baru, bahkan pesta meriah di buat untuk menyambutku. Aku diampuni dan diterima kembali. Rasanya seperti aku diberikan kesempatan untuk hidup dalam kehidupan yang baru. Aku sadar akan ketidak layakanku. Semua ini adalah kasih karunia yang sangat aku syukuri.

Tapi, masih ada satu hal yang kurang; kehadiran kakak sulungku. Nah, itu dia sedang berdiri di depan pintu. Rupanya dia baru kembali dari ladang. Raut wajahnya berubah masam saat berbicara dengan salah seorang pekerja. Tidak lama kemudian pekerja itu berlari tergopoh-gopoh ke arah aku dan ayah berada. Ia tampak membisikkan sesuatu kepada ayah dan setelahnya ayah langsung beranjak menuju kakakku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah kakak yang ternyata sedang menatap tajam ke arahku. Pandangan kami bertemu selama beberapa detik dan berakhir saat ayah tiba di hadapan kakak. Dari tempatku berdiri, aku dapat melihat sepertinya terjadi pertengkaran antara mereka berdua. Sesekali kakak kembali menatap tajam ke arahku. Tatapannya seolah mengisyaratkan kebencian kepadaku.

Pembicaraan antara ayah dan kakak berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya, raut wajah kakak tiba-tiba berubah. Tidak ada lagi raut kebencian di sana. Entah apa yang telah dikatakan ayah, kakak terlihat menyesali sesuatu. Dia menunduk sampai akhirnya ayah sedikit menarik lalu memeluknya. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Ayah membawa kakak masuk dan pesta pun dimulai. Semua orang bergembira. Tidak ada lagi duka atau air mata. Tidak ada lagi penghianatan atau kelaparan. Pada akhirnya, sejauh apapun aku pergi, rumah selalu menjadi perhentian terakhirku. Di luar sana memang ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan, tapi di rumah akan selalu ada cinta tulus yang membuatku bahagia melakukan banyak hal. Aku pulang, ayah.

© Copyright 2021 All rights reserved. Crafted by Thrive.